Banjar, galuh.id – Rahman (38) warga Dusun Randegan, Desa Mekarharja, RT 10 RW 05, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat, terbaring lemah sejak tiga bulan lalu dengan kondisi kaki tidak bisa jalan.
Rahman yang kesehariannya bekerja sebagai penebang pohon dan serabutan kini hanya duduk pasrah.
Kakinya sulit untuk berjalan, sulit berbicara jelas hingga penglihatan kadang kabur. Kondisinya tak memungkinkan untuk menjalankan kewajiban sebagai kepala rumah tangga.
Pasalnya, ia merupakan tulang punggung keluarga untuk menghidupi istri dan kedua anaknya.
Entin Surtini istri Rahman, mengatakan awalnya suaminya merasakan sakit meriang dan demam tinggi. Sampai saat ini suaminya sulit untuk beraktivitas.
“Untuk melakukan aktivitas saja susah, jalan pun harus dipapah. Bicara agak sulit kurang jelas dan kadang pandangan pun kabur,” ujar Entin.
Entin dan keluarga sudah menempuh berbagai cara pengobatan untuk penyembuhan sang suami. Tapi sampai saat ini belum membuahkan hasil.
Sejak suaminya sakit, Entin harus berusaha menjadi tulang punggung keluarga, berjualan dan kerja serabutan demi memenuhi kebutuhan hidup.
Selain itu juga untuk memenuhi keperluan anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan bayi berumur 5 tahun.
“Kalau dibilang cukup sih enggak. Untuk makan sehari-hari saja juga masih kurang. Kami sudah ke sana kemari untuk biaya berobat,” tutur Entin.
“Kemarin di cek ke medis, hasilnya normal. Padahal suami tidak ada riwayat gejala stroke. Kondisinya pun bagus tapi harus seperti ini,” tambahnya.
Koordinasi Bantuan untuk Warga yang Tidak Bisa Jalan
Melihat kondisi suaminya seperti ini, akhirnya Entin serta keluarganya berinisiatif membuat pegangan kayu di pinggir rumah untuk membantu suaminya berjalan.
“Susah untuk melakukan aktivitas. Makanya saya dan keluarga membuatkan pegangan untuk belajar berjalan,” katanya.
Ketua dan Wakil Ketua Resort Gibas Kota Banjar, Ginting dan Aris Ginanjar, memberikan sedikit bantuan serta mencarikan agniya yang berkenan membantu keluarga Rahman.
“Alhamdulillah kami sudah membikinkan BPJS kesehatan untuk bisa melakukan pengobatan dengan mudah tanpa harus mengeluarkan biaya yang cukup besar,” ujar Ginting.
Ginting yang juga seorang pengusaha, berharap pemerintah bisa membantu pengobatan serta kebutuhan hidup keluarga Rahman.
Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan desa dan Baznas. Permohonan bantuan sudah mendapat respons walau harus mengikuti proses.
“Pemerintah langsung berkomunikasi dengan Baznas dan desa. Alhamdulillah merespons baik, semoga bantuan cepat terealisasi,” ujar Ginting.
Pihaknya juga berharap Dinas Kesehatan memberikan perhatian khusus, mengingat kondisi Rahman sangat memprihatikan karena ia tulang punggung keluarga.
Sementara itu, Kabag Kesra Setda Kota Banjar, Agus Mulyana mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kepala Desa Mekarharja dan Baznas terkait kondisi Rahman.
“Saya juga menyarankan untuk mengajukan biaya hidup harian. Jadi setiap bulan mendapatkan Rp600 ribu sampai orang tersebut bisa mandiri,” pungkasnya. (GaluhID/Teja)
Editor: Evi
