cara menghindari pertengkaran dalam rumah tangga
Cara menghindari pertengkaran dalam rumah tangga. Foto: Ilustrasi/Istimewa

Gaya Hidup, galuh.idCara menghindari pertengkaran dalam rumah tangga berguna untuk mereka yang baru menikah, maupun bagi mereka yang sudah lama mengarungi bahtera rumah tangga.

Mengarungi bahtera rumah tangga adalah belajar seumur hidup. Tidak seperti menjalankan peran sebagai karyawan atau profesi tertentu. Sepanjang sejarah, tidak ada sekolah untuk menjadi pandai dalam menjalankan peran dalam rumah tangga.

Kalaupun ada pembeklaan pra nikah, pembekalan calon ibu, itu hanyalah sebatas pemberian pelajaran dan pengetahuan tentang hal-hal yang harus dipersiapakan. Namun, tidak kepada bagaimana menghadapi kehidupan yang penuh dengan kejutan selama mengarungi kehidupan rumah tangga.

Hidup bersama seseorang yang kita nikahi tidak semudah menjalani masa pacaran, jika menemukan ketidakcocokan boleh langung minta putus. Tidak pula seperti hubungan persahabatan dimana sahabat adalah orang yang paling kompak, kita bisa melakukan apapun, sampai perbuatan terkonyol sekalipun. Seorang sahabat pasti bisa mengerti segala kebodohan kita. Dengan sempurna, sahabat bisa menerima kita apa adanya.

Namun beda lagi dengan hidup berumah tangga. Sejak pagi, dari bangun hingga kembali terlelap, kita berdampingan dengan orang yang punya latar belakang dan kebiasaan yang berbeda, tiba-tiba berniat hidup bersama atas dasar ikatan hati yang disebut cinta.

Belum lagi, beberapa pasangan ada yang hidup berumah tangga tanpa didasari cinta terlebih dahulu. Membangun kehidupan sekaligus berusaha menumbuhkan cinta. Benar-benar bekerja keras untuk saling mengerti satu sama lain setelah menikah. Ini tentunya tidak mudah. Banyak perbedaan yang harus dimaklumi. Dimulai dari perbedaan pendapat, keinginan, pola pikir, dan lain-lain.

Selama menjalin hubungan sebelum menikah, bisa saja pasanagan kita selalu bersikap manis dan terlihat begitu sempurna. Seorang laki-laki menjadi pelindung bagi perempuannya. Termasuk, menjadi satu-satunya orang yang dianggap layak menjadi penjaga hati dan sayap pelindungnya. Ia begitu perhatian dan memperlakukan perempuannya bak seorang putri raja.

Sebaliknya, sang perempuan disanjung oleh laki-lakinya, dianggap sosok yang paling bisa membuat nyaman, cantik, keibuan dan didambakan menjadi ibu dari anak-anaknya. Pintar memasak, mengurus rumah, dan terkesan sangat perhatian kepada sang lelaki. Perempuan pun paling mengerti tentang hobi sang lelaki.

Namun setelah menikah, tidak selamanya berjalan demikian. Sang suami yang semula dipandang begitu hebat, ternyata pada kenyataannya adalah sososk manja yang banyak mengeluh. Terlalu lama bersedih ketika mendapatkan kesulitan, membuat sang istri merasa gentar, karena seseorang yang selama ini ia andalkan ternyata tidak sekuat karang.

Laki-laki yang diandalkannya gagal menjadi ahli mekanik. Keran yang bocor pun tidak bisa dibetulkan. Bahkan takut memasang tabung gas ketika sang istri hendak memasak. Pagi hari, ketika seharusnya lelaki bangun, beraktivitas sepagi mungkin, ini malah bermalas-malasan di tempat tidur. Membiarkan istrinya bersih-bersih rumah sendirian. Anaknya menangis pun diabaikan. Ya, itu menjengkelkan.

Sang istri, ternyata tidak secantik ketika pacaran. Pagi hari ditemui oleh sang suami masih dasteran dengan rambut yang kusut. Ia juga ternyata malas memasak. Tidak menguasai resep-resep makanan yang diminta suaminya. Kaca-kaca berdebu, setrikaan dibiarkan bertumpuk tanpa dilipatnya. Ah, membuat muak.

Semua itu bisa membuat sumber percekcokan dalam berumah tangga. Belum lagi perbedaan pendapat. Latar belakang pendidikan yang diampu, bisa membuat pola pikir yang berbeda di antara pasangan suami istri. Ketika sang istri berlatar belakang sarjana pendidikan dan suami sarjana teknik, tentu akan banyak perbedaan dalam mendidik anak. Ini bisa menjadi alasan pertengkaran.

Kemudian, ketika sang istri berasal dari kalangan biasa, ia dididik oleh orang tuanya untuk selalu bekerja keras, melakukan apapun dengan segera, mandiri dan cekatan. Sementara sang suami merupakan keturunan orang berada, yang dididik oleh uang, maka ketika kesulitan menimpa ia memiliki mental yang tidak lebih kuat dari sang istri.

Ternyata, alasan saling mencintai saja tidak cukup untuk menjadi modal dalam membangun rumah tangga, bukan? Ada hal-hal di luar itu yang harus benar-benar dilatih agar kehidupan rumah tangga rukun dan terhindar dari pertengkaran. Bahkan dari segala sesuatu yang mengarah pada perceraian. Cinta bisa memudar dengan adanya sesuatu yang mengecewakan. Namun dengan pengetahuan yang cukup dan kesiapan berumah tangga kita bisa meminimalisir pertengkaran.

Mari kita bahas satu per satu, cara menghindari pertengkaran dalam rumah tangga. 

Turunkan ego dan kedepankan kepentingan bersama

Setiap orang pasti memiliki ogo. Merasa harus mempertahankan pendapat karena merasa bahwa pendapatnya adalah benar, ini sering terjadi dalam kehidupan. Namun, dalam kehidupan berumah tangga sebaiknya ini tidak dilakukan. Mempertahankan pendapat di hadapan pasangan hanya akan memicu pertengkaran. Belajarlah mengalah.

Jika pasangan menentang pendapat, padahal yakin jika pendapat kita benar, maka sampaikan di waktu yang lain. Jangan ngotot untuk menjelaskan saat itu juga. Karena tentunya kondisi memanas. Menjelaskan suatu keyakinan yang tidak diterimanya hanya akan menyulut api kemarahan. Biarkan situasi mereda, sampaikan di waktu yang tenang. Dalam jam makan malam misal, atau sesaat setelah selesai berhubungan. Dalam keadaan tenang, pasangan akan lebih bisa menerima masukkan.

Belajar untuk selalu memaafkan dan melupakan

Dalam berumah tangga selalu menemukan masalah. Tidak selalu indah dan nyaman seperti hidup di negri dongeng yang selalu happy dan romantis. Pertengkaran demi pertengkaran muncul. Mulai dari gesekkan kecil hingga cekcok yang besar sekalipun. Rasa kecewa bahkan perlahan muncul.

Hati, hati. Jangan sampai rasa cinta kepada pasangan terkikis karena kekecewaan akibat tidak bisa memaafkan dia. Belajarlah untuk menjadi pemaaf. Melupakan kesalahan pasangan, selama kesalahan tersebut adalah kesalahan yang tidak terlalu prinsip. Memaafkan adalah kunci kedamaian dalam hati.

Niatkan hidup bersama untuk saling melengkapi

Menikah adalah menyempurnakan hidup. Meyempurnakan agama. Kita harus selalu ingat, bahwa tidak ada orang yang sempurna. Terimalah pasangan apa adanya. Yakinlah bahwa pasangan adalah seseorang yang melengkapi hidup. Dengan begitu, hidup berumah tangga akan terasa damai.

Yakinlah, bahwa menikah jauh lebih baik daripada sekadar berpacaran. Dalam jalinan pernikahan, orang bisa jauh lebih bertanggung jawab. Sedangkan pacaran hanya menumpuk dosa dan tidak ada jaminan apapun karena belum memiliki ikatan resmi.

Ciptakan tujuan untuk diri sendiri dalam kehidupan berumah tangga

Cara menghindari pertengkaran dalam rumah tangga selanjutnya adalah menetapkan target pencapaian untuk diri sendiri dalam hubungan pada kehidupan rumah tangga boleh diciptakan untuk memotivasi diri kita sendiri. Misal dengan mengharuskan diri kita menjadi seorang istri/suami yang paling pengertian bagi pasangan.

Memperbaiki diri agar lebih perhatian lagi kepada keluarga. Atau, bisa juga menetapkan target bahwa hari esok dan seterusnya harus menjadi pribadi yang sabar dan tidakmudah menyerah. Bersedia menjadi satu-satunya orang yang mendukung pasangan dalam hal apapun.

Beri waktu me time kepada pasangan bila perlu

Walaupun sudah hidup bersama dalam satu atap, pasangan kita tetap memiliki hak untuk menikmati hobi, dan menyalurkan bakatnya. Dukunglah ia dengan sepenuh hati, dan beri waktu untuk melakukan hobi dan kesenanagannya tersebut. Beri dia waktu luang untuk melakukan me time. Agar ia tidak merasa bosan.

Pasangan yang mendapatkan hak me time dari pasangannya, terbukti lebih bahagia dan menikmati kehidupan rumah tangga. Berbeda dengan mereka yang tidak mendapakan kesempatan tersebut.

Kuatkan dalam hati bahwa menikah adalah penyempurna ibadah

Yang terakhir ini adalah yang paling penting. Jika meyakini bahwa menikah adalah sebuah bagian dari ibadah, maka tantangan apapun tidak akan membuat hati gentar. Kita akan selalu bisa menjadi penerima, pemaklum, pemaaf, dan penyemangat bagi pasangan.

Menikah adalah ibadah. Melakukan hal-hal baik di dalamnya adalah mengandung pahala. Menafkahi anak istri adalah jihadnya para suami. Patuh kepada suami adalah surganya seorang istri.

Nah itu lah cara menghindari pertengkaran dalam rumah tangga. Jika sudah tertanam perasaan demikian maka tidak akan ada lagi masalah yang terlalu besar. Semua akan terasa baik-baik saja. Semoga bermanfaat. (galuh.id/Diantika)

loading...
 
 

TINGGALKAN KOMENTAR

Mohon masukan komentar anda!
Masukan nama anda disini