oleh

Kepada Mereka yang Sedang Memperingati Hari Lahir Pancasila

 
 

Penulis: Ade Maulana Yusuf

Saur Anjeun, galuh.id – Kerap kita saksikan 1 Juni, Hari Lahir Pancasila, di sekeliling kita hanya menjadi momen seremonial hormat bendera. Lelah berdiri di tengah lapang kadang dilakukan terpaksa karena tuntutan. Sisanya bernapas lega karena tak punya kewajiban untuk upacara.

Loading...

Tidakkah itu dikatakan fenomena hampa makna?

Pada kesempatan yang sama kita menggerutu. Berharap upacara berlalu begitu saja. Karena setelah ini, ada urusan lain yang telah menanti.

Di media sosial pun–WhatsApp, Twitter, Facebook, Instagram–terdapat deretan-deretan ucapan selamat Hari Lahir Pancasila.

Belum lagi bentuk refleksi seperti kajian dan diskusi mengenai latar belakang perumusan ideologi negara tersebut. Atau bab kebangsaan lain yang kesemuanya masih belum banyak ditemukan secara masif pada laku hidup sehari-hari.

Selayaknya apapun bentuk peringatan itu, tentu perlu dipahami secara utuh. Bukan sekadar retorika belaka. Namun disandarkan terhadap refleksi mendalam tentang bagaimana kita berpancasila. Meski tidak dinafikan bahwa semua model ikhtiar tengah dilakukan agar lebih baik lagi.

Perlunya itikad baik untuk menyadari, bahwa kita harus me-reaktualisasi makna peringatan Hari Lahir Pancasila saat ini, agar tidak mempertebal lembaran fenomena yang hampa makna.

Alangkah seharusnya kita menyadari sebagai bangsa Indonesia, butir dan nilai Pancasila belum seutuhnya kita peluk secara mesra.

Ada benarnya jika melihat realitas di -seperti meminjam pengertian Francis Fukuyama–Pancasila suatu “the end of history“, sebagai puncak perkembangan pemikiran bangsa Indonesia yang sudah menjadi paradigma pemikiran. Dalam arti pemikiran yang telah mendapatkan persetujuan dari komunitas akademis yang menjadi dasar legitimasi, kritik, maupun rekayasa sosial.

Karena dianggap sebagai ideologi yang final, terkesan seolah-olah Pancasila tak bisa lagi diutak-atik oleh pemikiran kritis. Maka Pancasila seolah-olah terputus dari realitas sehingga dirasakan tidak relevan lagi untuk dibicarakan.

Dari situlah, Pancasila seolah-olah telah dilupakan. Apalagi Pancasila tidak lagi jadi teori sumber rekayasa sosial. Dengan perkataan lain, ia telah kehilangan relevansinya.

Mengapa Hari Lahir Pancasila begitu penting diperingati?

Radikalisme yang bermuara pada sikap intoleransi merupakan ancaman serius. Pancasila diharapkan dapat menjadi kritik sosial dalam setiap perkembangan jaman. Karena dalam kerangkanya Pancasila mencakup nilai prinsip kemanusiaan sekaligus keadilan sosial.

Prinsip moderat berperan dalam membangun dialog peradaban di tengah kemajemukan bangsa. Hal tersebut menegaskan bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa yang ekstrem. Dalam memperingati Hari Lahir Pancasila adalah momen yang baik untuk menyegarkan kembali hidup bernegara dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Mungkin sulit untuk sepenuhnya dihayati. Namun setidaknya kita mengerti dan merasakan bahwa kita punya pegangan nilai. Punya pondasi dalam menghadapi gempuran berbagai isme. Sungguh kita layak berpelukan mesra menjaga lima dasar negara.Selamat Hari Lahir Pancasila. (galuh.id/Ade)


Ade Maulana Yusuf dikenal sebagai mahasiswa PAI Institut Agama Islam Darussalam.
Sekarang ini aktif di HMI Komisariat Tarbiyah. Sering juga bergiat di Komunitas literasi.


loading...

Penulis : Redaksi GaluhID

Galuh.ID terbangun dari tidur yang panjang soal keberadaan berita hoax yang semakin hari semakin meresahkan.

Komentar

BERITA SELANJUTNYA