oleh

Malam Mingguan Bersama Ular di Alun-alun Ciamis

 
 

Ndu Corner, galuh.id – Saya takut ular. Saya yakin Anda juga? Makanya ketika Komunitas CRC (Community Reptile Ciamis) beberapa kali mengajak saya ikut gathering, saya sama sekali tidak tertarik.

Tapi, karena terus-terusan diajak. Saya ‘terpaksa’ mengiyakan. Syukurnya saya tidak menyesal. Saya datang ke Gathering CRC, Sabtu (16/11/2019) malam. Kali ini malam Minggu saya ditemani reptil. O m g!

Di luar dugaan, saya menemukan anak-anak ternyata familiar dengan ular di Alun-alun Ciamis. Mereka terlihat senang. Ular-ular itu dielus-elusnya, bahkan ada beberapa yang mengajaknya bicara.

Saya berkenalan dengan Boruto, Molurus python nama biologinya. Sehari-hari dikenal dengan nama Sanca Bodo. Si Boruto ini atau si ular Sanca Bodo inilah yang banyak dielus anak-anak.

Anak-anak bergantian mengerubungi Boruto, ular di Alun-alun Ciamis yang dibawa komunitas CRC. Sementara Boruto sesekali bergerak, tapi lebih sering diam, anteng di tanah.

Saya sempat berpikir Boruto ‘rudet’ atau stress karena banyak anak-anak yang mengelus dan terkadang ada juga yang memencetnya untuk membuktikan betapa empuknya si ular albino seberat 40 Kg ini.

Selain Boruto ada juga si Kemuningsari. Jenis Reticulatus python. Warnanya sama kuning, tapi ada polet warna hitamnya. Sanca Kembang adalah nama yang dikenal orang-orang untuk ular seperti Kemuningsari ini.

Kemuningsari lebih sering digendong. Dia lebih aktif, tak mau diam. Tapi para anggota CRC terlatih untuk menangani si Kemuningsari ini. Konon si Kemuningsari kalau dijual harganya bisa mencapai Rp 8 juta.

Reptil lainnya yang dibawa komunitas CRC adalah si Ojan. Kadal Argentina yang biasanya hidup di hutan hujan tropis kawasan Amerika Selatan.

Ojan binatang omnivora ini terbiasa makan daging juga buah-buahan. Menurut pemiliknya, reptil yang nama biologinya Tegu argentine ini pernah ditawar Rp 10 juta. Tapi tentu saja Ojan tidak dijual.

Makin malam, Alun-alun Ciamis makin rame. Pengunjung menggerubungi Boruto. Anak-anak berebutan mengelus ular albino yang saya panggil si Bule.

Sekali-kali Tole, salah seorang anggota CRC mewanti-wanti anak-anak agar tak mengangkat Boruto. Cukup dielus-elus saja. “Empuk ya kayak plastik,” celoteh Lia (8) salah seorang anak perempuan yang asyik mengusap Boruto.

Bukan hanya ular dan Tegu saja yang dibawa anak-anak CRC. Iguana juga tampak nyaman merayap di bahu beberapa anggota CRC. Selain dari Ciamis, ada juga pecinta reptile dari Tasikmalaya dan Kawali, yang membawa reptile berwarna hijau ini.

Sayangnya, CRC tak setiap  malam Minggu mengadakan gathering. Hanya pada momen-momen tertentu saja. Tapi menurut Joehanes Liem, Pembina CRC, komunitasnya sudah terbiasa diundang ke sekolah maupun ke acara-acara tertentu.

Bahkan saat Gath malam Minggu itu, seorang guru TK menghampiri pria yang biasa dipanggil Akong tersebut. Dia ingin mengundang CRC ke acara sekolahnya.

Saya sempat menggoda Akong. Saya bilang, kulit ularnya bagus banget. Saya tertarik menjadikannya tas kulit ular. Tentu saja saya bercanda, tapi Akong sudah terlanjur cemberut. Kejam! Begitu dia bilang.

Itu cerita malam Minggu saya, bagaimana dengan malam Minggu kamu? (GaluhID/Ndu)

loading...

Komentar

BERITA SELANJUTNYA