oleh

Obat Corona Remdesivir, Ampuhkah Obati Covid-19?

 
 

FDA (Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat) telah menyetujui obat Corona remdesivir untuk diberikan kepada pasien Covid-19 dengan gejala parah.

Adapun kriteria pasien yang dikategorikan parah yaitu pasien yang memerlukan ventilator, terapi oksigen, atau kadar oksiden rendah dalam darah.

Remdesivir diberikan dalam bentuk suntikan ke jaringan pembuluh darah vena. Obat ini tergolong obat keras dengan bekerja menghambat perkembang biakan inti virus agar tidak bertambah.

Fakta Seputar Obat Corona Remdesivir

Remdesivir sebenarnya bukanlah obat baru. Obat ini sudah digunakan sebelum ada wabah Corona. Berikut fakta seputar obat yang digunakan di beberapa negara untuk menyembuhkan pasien Corona ini:

Digunakan pada Ebola, SARS, dan MERS

Dari informasi sebelumnya, Dr. Bruce Aylward dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) mengatakan remdesivir adalah antivirus yang paling efektif.

Pada tahun 2013-2016, remdesivir digunakan sebagai metode pengobatan infeksi virus Ebola dan virus marburg. Obat ini dinilai aman karena tidak menimbulkan efek samping pada pasien.

Gilead Sciences, dari perusahaan bioteknologi di Amerika Serikat melakukan uji coba remdesivir pada infeksi virus SARS dan MERS yang memiliki struktur mirip dengan Corona.

Eksperimen ini menggunakan tikus dan kelelawar untuk melihat cara kerja obat pada organisme hidup.

Pada Maret 2020, Gilead akan memulai penelitian tahap awal pada orang dewasa dan akan mendaftarkan 1.000 pasien Corona dari beberapa negara.

Berdasarkan evaluasi dari studi sebelumnya, obat corona remdesivir dikombinasi dengan senyawa NHC sebagai terapi ganda.

Akan Dikembangkan oleh Perusahaan China

Pada Februari 2020, China selangkah di depan dengan mengajukan permohonan untuk hak paten obat Corona remdesivir.

Ada tiga perusahaan farmasi yang memimpin ‘kompetisi global’ pembuatan vaksin corona ini. Pertama, CanSino Biologics yang didirikan oleh Yu Xuefeng tahun 2009.

Sebagian besar karir Yu telah dihabiskan meneliti vaksin untuk Sanofi Pasteur di Kanada.

CanSino telah mengembangkan vaksin untuk penyakit menular seperti TBC dan meningitis. Untuk menjalankan misi penyebaran vaksin China secara internasional, CanSino mempekerjakan tiga ilmuwan asli China yang memiliki pengalaman di luar negeri.

Kedua, perusahaan Sinovac Biotech yang didirikan oleh Yin Wei Dong tahun 2001. Sinovac telah mengembangkan vaksin Hepatitis A pertama di China.

Selain itu, Sinovac juga memproduksi enam vaksin lain yang telah layak jual dan memiliki nilai pasar 400 juga dollar AS.

Pada 2009, Sinovac mendapat perhatian khusus karena berhasil menciptakan vaksin untuk flu babi H1N1.

Ketiga, Institut Produk Biologi Wuhan yang telah berdiri sejak 1950. Dikutip dari situs web resminya, lembaga ini memiliki lebih dari 1.000 pekerja dengan lahan yang luas di Wuhan.

Fakta Wuhan yang menjadi sumber wabah virus Corona, memicu kecurigaan atas bocornya patogen dari laboratorium.

Pemerintah AS sedang menyelidiki laboratorium milik lembaga ini tetapi belum ada kesimpulan darimana virus Corona pertama kali berasal.

Diuji Coba Pada Kera

Untuk mengetahui seberapa efektif obat Corona remdesivir, ilmuwan dari AS melakukan uji coba pada kera. Dua kelompok kera yang masing-masing terdiri enam ekor sengaja diinfeksi virus Corona (SARS-Cov-2).

Kelompok pertama diberi suntikan remdesivir setelah 12 jam terinfeksi, kemudian diteruskan selama enam hari berikutnya.

Hasilnya, hanya satu dari kelompok ini yang mengalami gangguan pernapasan ringan dan kadar virus rendah di dalam paru-paru.

Sedangkan kelompok kedua yang tidak diberi pengobatan mengalami gejala sesak napas dan kadar virus di paru-paru lebih tinggi dari kelompok pertama.

Tak lama kemudian setelah percobaan itu, pada Kamis (16/4/2020) rumah sakit di Chicago melaporkan remdesivir cukup ampuh untuk mengobati pasien Corona.

Dapat Mempersingkat Waktu Pemulihan Pasien Covid-19

National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) mengumumkan obat remdesivir akan menjadi standar baru perawatan pasien corona di US.

Informasi ini diambil dari hasil uji coba pada 800 pasien yang memperlihatkan kemajuan.

Menurut NIAID, pasien yang diberi obat remdesivir memiliki waktu pemulihan yang lebih singkat dibanding pasien yang diberi plasebo.

Pasien yang diberi obat remdesivir memerlukan waktu pemulihan rata-rata 10 hari, sedangkan pasien yang diberi plasebo butuh waktu 15 hari.

Tetapi, otorisasi FDA dalam meloloskan obat remdesivir bukan berarti telah mendapatkan persetujuan resmi dari tiap negara.

Para ahli mengemukakan bahwa obat Corona remdesivir membutuhkan tinjauan lebih dalam, dan bukan satu-satunya alternatif untuk pengobatan pasien Corona. (GaluhID/Elsa)

Loading...
loading...

Komentar

BERITA SELANJUTNYA