oleh

Tiba di Ciamis Pekerja Wardah Diperiksa Tim Komando Covid-19

 
 

Berita Ciamis, galuh.id – Kabupaten Ciamis dipastikan mengalami lonjakan gelombang eksodus asal zona merah. Hal tersebut berdasarkan data yang dihimpun gugus tugas percepatan penanganan Covid-19.

Sebanyak 109 orang asal zona merah masuk ke wilayah Ciamis. Mereka datang dari Jakarta untuk pulang ke kampung halamannya di Kecamatan Sukadana.

Mereka kemudian ditetapkan sebagai orang tanpa gejala (OTG) setelah dilakukan screening oleh tim Gugus Tugas Kecamatan Sukadana dan puskesmas setempat.

109 orang yang datang dari zona merah tersebut merupakan pekerja dari salah satu perusahaan kosmetik kecantikan Wardah. Mereka mudik lantaran di liburkannya perusahaan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, dr Yoyo mengatakan, karena statusnya OTG, mereka hanya diimbau untuk mengisolasi diri di rumah masing-masing selama 14 hari ke depan.

Demikian disampaikan dr Yoyo dalam rilis data yang digelar di posko PIK-Covid Ciamis, Sabtu (29/3/2020) sekitar pukul 12.20 – 13.00 WIB.

Pekerja Wardah Diminta Intens Komunikasi dengan Petugas Medis

Selain diminta untuk isolasi diri, mereka juga diimbau untuk tetap intens melakukan komunikasi dengan petugas medis Puskesmas setempat.

“Karena statusnya OTG, cukup isolasi diri saja di rumah, tapi harus tetap komunikasi dengan puskesmas setempat,” terang dr Yoyo.

Tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Kecamatan Sukadana kemudian memberikan mereka peralatan untuk isolasi mandiri berupa masker.

Selama isolasi mandiri, mereka diminta untuk tetap berada di rumah masing-masing dengan menggunakan masker. Tidak boleh ada interaksi sosial, serta jaga jarak.

“Tak boleh kemana-mana, bila perlu, di rumahnya juga terpisah,” terang dr Yoyo.

Pihaknya juga telah mendata kontak mereka. Hal ini, kata dr Yoyo, bertujuan agar bisa dilakukan pemantauan terhadap kondisi perkembangan mereka.

“Per individu dari 109 orang tersebut sudah di data kontaknya dan akan ada komunikasi secara berkala dengan bagian kesehatan,” ujar dr Yoyo.

Bilamana ada diantaranya yang memiliki gejala terjangkit Covid-19, tim dari puskesmas setempat akan turun untuk memeriksa yang bersangkutan.

Pihaknya berharap supaya pola tahapan ini bisa dipahami dan diharapakan mereka pun bisa menerapkannya demi keamanan bersama.

Selain itu, dia pun mengimbau kepada masyarakat sekitar untuk dapat memberikan dukungan dan tidak memberlakukan stigmasisasi.

Dukungan dari Orang Sekitar Dalam Menjalani Isolasi Mandiri

Menurut dr Yoyo, diperlukan kedisiplinan dan tekad yang kuat, serta dukungan dari orang-orang sekitar dalam menjalani tahapan isolasi mandiri tersebut.

“Jangan ada stigmasisasi, melarang orang masuk atau mengucilkan. Tapi support dan pantau demi kesehatan bersama,” ujar dr Yoyo.

Sementara itu, bagi mereka yang sudah selesai observasi baik ODP, PDP, maupun OTG, nanti akan disosialisasikan.

Mereka akan dinyatakan selesai observasi selama 14 hari dan tidak ditemukan gejala terjangkit Covid-19.

Bagi mereka yang masih dalam pemantauan, diharapkan mengerti dan paham terhadap pola kebijakan yang diterapkan.

Pentingnya isolasi adalah supaya tidak menyebarkan kepada orang lain. Orang yang terpapar Covid positif tidak selalu memiliki gejala. Karena belum tentu tidak ada gejala berarti aman.

Mengenai ketersedian alat pelindung diri (APD), pihaknya mengaku sudah mendapatkan bantuan, namun penggunaannya di perketat.

Dari Provinsi mendapat bantuan Coverall, kemudian disalurkan kepada rumah sakit sebanyak 50pcs, Dinas Kesehatan 40pc, dan Labkesda 21pc.

Namun diakuinya, dalam menghadapi Covid-19, Ciamis masih membutuhkan banyak APD.

Hal ini dikarenakan banyaknya kegiatan seperti screening di setiap puskesmas dan surveillance yang dilakukan oleh warga atau tim Gugus Tugas di tiap tingkatannya.

Bagi instansi atau masyarakat yang berkenan memberi bantuan, bisa datang langsung ke sekretariat Gugus Tugas Dinas Kesehatan Ciamis.

“Diharapkan bantuan dalam bentuk barang, bukan uang,” tandas dr Yoyo. (GaluhID/Evi)

Loading...
loading...

Komentar

BERITA SELANJUTNYA