Yang Tidak Saya Sampaikan Pada Asep M. Tamam di Pelatihan Jurnalistik RTC

94

Galuh ID – Saya mengikuti Pelatihan Jurnalistik Dasar di Gedung Radar Tasikmalaya pada Sabtu (24/11/2018). Walaupun sudah menulis untuk Galuh ID tapi banyak hal yang saya merasa perlu banyak belajar, maka pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh Radar Training Center (RTC) ini tidak saya lewatkan.

Beberapa pertanyaan yang sering menghantui saya akhirnya saya dapatkan jawabannya melalui pemaparan dari M. Ruslan Hakim, Redaktur Pelaksana Radar Tasikmalaya dan Sandy Abdul Wahab, Asisten Redpel Radar Tasikmalaya. Hanya saja waktu beberapa jam rasanya tidak cukup, ditambah ruangan yang dingin membuat saya terpaksa sejenak meninggalkan Studio Radar TV-tempat pelatihan diadakan- untuk ke kamar kecil.

Dari 5 orang pemateri, Pak Asep M. Tamam yang menarik perhatian saya. Pertama karena saya iri dengan beliau yang bisa menulis hanya tema-tema yang ia sukai. Pak Asep merupakan dosen di sebuah perguruan tinggi di Tasikmalaya, beliau juga menulis artikel di Radar Tasikmalaya. Masa depan yang saya dambakan itu ya seperti Pak Asep ini, membaca dan menulis tema yang Ia sukai.

Sayangnya, waktu yang singkat membuat saya tidak punya kesempatan untuk ‘curhat’ dan bertanya pada beliau. Curhat yang dimaksud adalah kesamaan cerita yang saya punya dengan beliau. Kami sama-sama pelahap buku, beliau bercerita masa kecil yang sulit membuatnya tak bisa banyak membeli buku, sama persis seperti masa kecil saya. Salah satu yang paling saya ingat adalah saya yang senang membaca harus bersabar menunggu lungsuran majalah Bobo dari sepupu yang langganan majalah tersebut.

Zaman saya kecil belum ada yang namanya Taman Baca seperti sekarang. Akibatnya saya pernah terjerumus membaca bacaan karangan Freddy S. dan semacamnya ketika masa-masa awal akil balig.

Sama seperti Pak Asep, ketika sudah bekerja dan bisa menghasilkan uang sendiri, saya sering kalap belanja buku untuk melampiaskan hasrat terpendam sejak kecil tersebut. Kadang kala, buku yang saya beli terkubur lama di lemari. Buku-buku itu harus menunggu dengan sabar untuk dibaca di waktu luang yang saya punya.

Dari hasrat membaca itu saya juga senang menulis. Sama seperti Pak Asep saya melewati masa-masa dimana menyatakan cinta itu cukup via surat. Awal kenal internet saya menulis banyak curhat di buletin friendster. Ketika musim blog saya sempat beberapa kali berganti alamat blog. Penyesalan terbesar saya adalah saya tidak terlalu serius untuk menjadi blogger karena awalnya saya merasa menulis cuma hobi yang dilakukan untuk bersenang-senang, sama seperti orang memancing. Walau begitu, ketika saya mengalami kesulitan keuangan saya melakoni profesi sebagai ghost writer.

Iya, saya senang menulis seperti saya senang membaca. Bagi saya menulis itu menghilangkan stress, apalagi kalau curhat seperti ini. Jadi jika pembaca sekalian merasa susah untuk menulis mulailah dari menulis curhatan, tapi jangan tulisan alay ya. Lalu ketika bermain facebook saya sering menulis status yang panjang, beberapa kali saya diprotes karena tulisan saya yang panjang. Saya sih cuek.

Saya pun punya keterbatasan dalam menulis, misalnya saya tidak senang menulis berita kecelakaan, apalagi kecelakaan lalu lintas. Seringkali apa yang saya tulis tertanam di otak, hingga kalau dibonceng di motor saya bisa sambil merem di belakang driver. Ada bis dari belakang saya benar-benar takut tertabrak.

Saya lebih senang menulis tentang apa yang sudah saya kuasai dengan betul. Misalnya pengalaman saya selama menjadi suporter PSGC, berlagak ala-ala pengamat sepak bola, mengintip kekuatan lawan-lawan PSGC atau menceritakan kesenangan saya away bersama teman-teman dari Balad Galuh.

Suatu hari saya ingin punya kebebasan untuk menulis hanya pada hal-hal yang saya senangi, seperti Pak Asep. Di pelatihan banyak peserta yang mengaku kesulitan untuk menulis, kalau saya boleh memberi tips maka mulailah menulis dari apa yang Anda geluti setiap hari.

Terakhir, saya merasa perlu menyebarkan apa yang dikatakan Pak Tiko Heryanto, wartawan senior Radar, Pak Tiko yang membuat beberapa perempuan peserta pelatihan gemetar ketika bertanya pada beliau ini, menyampaikan tentang fungsi pers untuk meredam kompetisi.

Saya sempat curhat juga pada beliau kalau saya jengah dengan media yang menggoreng isu-isu tidak penting di kompetisi Pilpres. Banyak hal substansial tertutupi dengan berita-berita remeh temeh dari Capres.

Pesan pak Tiko sangat mengena sekali, katanya “jika jengah dengan berita-berita seperti itu mulailah dengan diri sendiri, yaitu dengan tidak menulis hal-hal yang menyerempet atau merendahkan martabat orang lain”. Pesan ini akan saya ingat betul ketika punya hasrat kuat untuk menulis nyinyir di status facebook saya. Terima kasih.*

Kanal Curhat Editor adalah arena menulis editor Galuh IDK. Putu Latief untuk mencurahkan segala uneg-unegnya tentang PSGC dan Ciamis. Editor yang akrab dipanggil Ndu ini juga dikenal sebagai pegiat Wanoja Galuh. Anda mau curhat juga? Galuh ID menyediakan Kanal Saur Anjeun, silakan kirim tulisan Anda ke email ndu@galuh.id atau jika web Galuh ID sedang maintenance tulisan bisa dikirim langsung ke WA 085320993883.

loading...
 
 

TINGGALKAN KOMENTAR

Mohon masukan komentar anda!
Masukan nama anda disini