Ciamis, Galuh.ID – Alun-alun kabupaten Ciamis saat ini sedang direnovasi, pengerjaan tahap awal pun mulai dilakukan. Namun Tugu Raflesia sampai saat ini belum dibongkar untuk kemudian diubah sesuai dengan rencana perubahan alun-alun seperti yang tertuang dalam desain perubahan alun-alun.

H. Oman Rohman, Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup kabupaten Ciamis saat ditanya mengenai hal tersebut mengatakan bahwa perubahan Tugu Taman Raflesia akan disesuaikan dengan anggaran yang ada.

“Apabila anggarannya ada, kita akan ubah. Apabila anggarannya tidak ada, maka tidak akan diubah,” terang H. Oman saat ditemui di ruang kerjanya pada Selasa (15/11/2018).

BACA JUGA!

H. Oman menjelaskan untuk perubahan tugu raflesia masih belum dikerjakan, karena saat ini masih mengerjakan tamannya terlebih dahulu.

“Pengerjaan Alun-alun ini baru 10%, masih jauh dengan perencanaan perubahan Alun-alun secara keseluruhan,” ujarnya.

Pembangunan tahap awal akan dikerjakan sampai dengan bulan Desember 2018. Sedangkan untuk perubahan Tugu Taman Raflesia masih dalam kajian dan rumusan yang lebih mendalam. Karena ada berbagai masukan dari berbagai pihak diantaranya dibuat Tugu Ciung Wanara, Ayam Camanik, atau Kujang.

“Jadi tugu yang akan dibangun harus mewakili dan memiliki jiwa semua pihak,” jelasnya.

Menurut H. Oman, Alun-alun kota Ciamis sudah hampir 30 tahun belum ada perubahan secara keseluruhan, “saat ini kondisi jogging track dan yang lainnya sudah tidak layak sehingga perlu ada perbaikan secara keseluruhan,” terangnya.

Sementara itu, Godi Suwarna salah satu seniman kabupaten Ciamis saat dihubungi Galuh ID menginginkan agar Tugu Raflesia diubah.

“Karena apabila dengan Tugu Bunga Raflesia yang sekarang ini filosofinya bau. Padahal kabupaten Ciamis ini sangat kental dengan kerajaan Galuh dan banyak peninggalan-peninggalan kerajaan Galuh kenapa tidak membawa dari sejarah Galuh?” Ungkapnya.

Godi kemudian menyarankan agar prasasti dan batu tulis yang ada di Astana Gede Kawali dijadikan ikon kabupaten Ciamis.

“Kenapa tidak dijadikan tugu sebagai ikon kabupaten Ciamis? Kerena¬†prasasti Astana Gede menggunakan huruf Sunda mewakili suku Sunda atau bisa dengan kujang yang di pinggir-pinggirnya memakai prasasti Astana Gede,” terang Godi.

Perihal nama, Godi juga memberi masukan agar nanti Taman Alun-alun diberi nama “Maya Datar”. Nama itu menurut Godi ada dalam sejarah Galuh yang saat ini dipakai nama tempat oleh Purwakarta.

“Jelas-jelas nama itu (Maya Datar) ada di sejarah Galuh. Bukannya bunga Raflesia yang dijadikan tugu, ada-ada saja Ciamis,” kata Godi sambil tersenyum.

(Arul)

 
 

TINGGALKAN KOMENTAR

Mohon masukan komentar anda!
Masukan nama anda disini