Rabu, 29 September 2021
Rabu, 29 September 2021

Musim Hujan Tiba, Waspada Banjir Jakarta

Opini, galuh.id – Hujan sejatinya membawa berkah bagi kehidupan. Akan tetapi karena sesuatu hal — misalnya tata kelola lingkungan yang salah,  hujan yang datang terkadang membawa musibah. Seperti yang terjadi saat ini, hujan yang mengguyur wilayah Bogor dan sekitarnya sejak Senin 21 September 2020 sore menyebabkan tinggi muka air (TMA) Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa, mencapai 250 sentimeter atau berstatus waspada banjir Jakarta

Hujan yang mengguyur sejak pukul 15.00, bertahan hingga pukul 18.00 terjadi  hampir merata di wilayah Bogor. Kepala Pengawas Bendung Katulampa, Andi Sudirman menuturkan, kepada Kompas bahwa,  kenaikan TMA naik drastis hanya dalam satu jam, hingga pada pukul 18.00 sudah berstatus siaga III. TMA terus naik di Siaga II dengan TMA 170 sentimeter dan belum satu jam naik lagi ke Siaga waspada dengan ketinggian 250 sentimeter.

Waspada Banjir Jakarta

Semalam, masih terpantau TMA 170 sentimeter, atau dalam status Siaga II. Jumlah debit air 630.000 meter kubik/detik itu diprediksi akan terbawa hingga Jakarta sekitar 8-10 jam ke depan artinya status waspada banjir Jakarta

Andi mengatakan, masyarakat yang berada di sepadan Sungai Ciliwung agar lebih waspada terjadinya luapan air sungai, karenaal ada kemungkinan debit air dari Katulampa akan terus bertambah mengingat Bogor diperkirakan hujan sepanjang hari.

Mungkin masih lekat dalam ingatan banjir yang terjadi pada awal tahun 2020 di Jakarta dan daerah Pulau Jawa lainnya. Bukan hanya barang-barang, melainkan ada nyawa yang jadi korban. Peristiwa banjir tersebut menjadi trauma tersendiri.

Kini kita harus lebih berhati-hati dan waspada. Sebab, sejak mengalami peningkatan setelah diguyur hujan deras sejak Senin (21/9/2020) sore Bendung Katulampa, Bogor, Jawa Barat kini berstatus siaga.

Hujan Deras di Kawasan Puncak Bogor

Petugas Jaga Bendung Katulampa mengatakan, naiknya ketinggian air disebabkan karena hujan deras yang menyelimuti kawasan Puncak, Bogor.

Kini saatnya kita saling jaga dan melindungi sesama, waspada banjir Jakarta. Karena menurut prediksi air akan sampai di Jakarta dalam waktu 8 sampai 12 jam ke depan — terhitung sejak Bendung Katulampa siaga 1.

Bagi warga ibukota Jakarta sendiri, datangnya musim hujan sudah identik dengan banjir itu sendiri. Bukan hanya saat sekarang, bahkan menurut kakek saya yang pernah tinggal di Jakarta, waspada banjir Jakarta bahkan sudah terjadi sejak jaman Belanda menjajah Indonesia.

Lalu jika banjir datang siapa yang disalahkan? Hujan,  Sungai yang tak mampu menampung air, atau Gubernur DKI yang tak mampu mengatasi banjir?  Terlepas dari itu semua hujan adalah fenomena alam, banyak umat manusia yang terbantu mata pencariannya karena hujan.  Jadi jangan pernah menyalahkan hujan, karena itu sunatullah.

DKI Jakarta Siap Siaga

Menyambut datangnya musim penghujan, Gubernur DKI Jakarta dengan sigap telah mengambil ancang-ancang melakukan langkah antisipatif. Beliau telah memerintahkan jajarannya untuk menyiapkan lokasi pengungsian warga yang terdampak banjir.

Bisa jadi langkah sigap Anies merupakan langkah tepat dalam waspada banjir Jakarta.  Ternyata memang hujan yang datang mengguyur Jakarta hari senin sore kemarin telah menyebabkan beberapa titik di Jakarta terendam banjir. Bahkan Selasa pagi (22/09) ini banjir belum juga surut.

Datangnya musim hujan kali ini, bagi warga dan juga bagi Gubernur DKI Jakarta merupakan beban tersendiri. Hal tersebut  karena saat ini Gubernur DKI Jakarta dan warga Jakarta sedang bergelut dengan pandemi Covid-19 yang belum mereda, bahkan terus mengalami peningkatan dan PSBB pun masih berlangsung di Jakarta.

Banjir Saat Pandemi Covid-19

Apalagi jika saat pandemi ini harus berhadapan pula dengan banjir, beban itu akan semakin bertambah.

Menerapkan protokol kesehatan, termasuk melakukan physical distancing dalam suasana normal saja bukan hal yang mudah. Apalagi ditambah musibah banjir. Akan semakin sulit dan bisa dibayangkan bagaimana repotnya pemerintah dan warga DKI Jakarta menghadapi situasi dan  kondisi seperti itu.

Dalam suasana pandemi seperti ini,  tak selayaknya ada pihak-pihak yang justru memanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan politik sesaat. Semua pihak seharusnya bisa bersatu bahu membahu mengatasi masalah yang dihadapi oleh warga Jakarta. Bukan saatnya saling menyalahkan, mencari celah kelemahan apalagi membesarkan perkara yang belum tentu benar.

Dalam hal ini, Gubernur DKI Jakarta juga harus lebih siap dan sigap.  Tak perlu  melayani serangan-serangan dari lawan politik. Sebagai seorang pemimpin yang baik, harus senantiasa fokus mengurus dan membantu warganya sebaik mungkin, karena kepentingan warga adalah yang utama.

Masalah kebijakan yang dibuat oleh seorang pemimpin,  sudah pasti  melahirkan pro dan kontra. Bukan hanya Gubernur DKI Jakarta saja, tapi siapa pun pasti akan mengalami hal yang sama, dan hal seperti itu seharusnya tidak perlu menjadi masalah. Selama kebijakan itu bersifat populis, demi dan untuk kebaikan warga atau rakyat, harus terus dijalankan.

Sulit Warga Jakarta Bebas dari Banjir

Bagi warga Jakarta sendiri, bebas dari banjir untuk saat ini mungkin hanyalah  sebuah mimpi. Karena sampai hari ini belum ada pemimpin Jakarta yang mampu membebaskan Jakarta dari banjir.

Tidak gubernur dulu tidak pula gubernur sekarang, bahkan gubernur pada jaman Belanda yang terkenal dengan tata kota dan irigasinya, tak ada yang mampu membawa Jakarta bebas banjir, mengingat Jakarta secara geografis adalah sebuah cekungan, ibarat seperti mangkuk yang bila diissi air sulit untuk ditiriskan.

Jadi mengatasi banjir di Jakarta memang bukan hal yang mudah. Dibutuhkan kemampuan, dukungan, dan kerjasama dari semua pihak. Maka jika sudah mendapatkan sinyal waspada banjir Jakarta, mulailah untuk saling merapatkan barisan, bergandeng tangan dan bahu membahu untuk mengatasi, karena semua itu akan  kembali kepada “belas kasihan” alam….(GaluhID/Tari Abdullah)

Loading...

Temukan Kami

47,551FansSuka
279PengikutMengikuti
2,760PelangganBerlangganan