Kasus Audrey dan Ingatan di Jalan Gunung Galuh 2010

184

Cerpen-Ndu Corner, Galuh IDDunia memang tak adil. Gumam Lina. Tiba-tiba ia mendadak begitu sensitif akhir-akhir ini. Sesuatu yang terjadi dua hari yang lalu telah membuat luka lamanya kembali terasa perih. Belum lagi, pemberitaan  di berbagai media begitu menjenuhkan. Membuat kepala semakin runyam. Politik, korupsi, dan sekarang muncul kasus bullying yang sedang marak dibicarakan: Kasus Audrey di Pontianak.

Kasus Audrey di Pontianak memang lebih menarik perhatiannya. Tidak. Lina tidak sedang memihak pada korban atau pun sang pelaku. Tidak ada hubungannya dengan itu. Namun ada semacam trauma berat yang menjadikannya merasa begitu sakit ketika terpaksa ia menyimak berita perkembangan kasus tersebut.

Peristiwa bullying pada kasus Audrey mengingatkannya kepada kejadian beberapa tahun yang lalu. Jambakan di rambut, kerudung yang robek, kerah baju yang diangkat kasar, serta rahang dan pipi yang sakit akibat cengkraman dari kuku yang sengaja dipanjangkan.

“Kamu ngapain dekat-dekat dengan Gilang, hah?” Bentak Inez kala itu. Lina hanya diam. Tidak ada gunanya menjawab petanyaan. Kalaupun ia jujur atas apa yang terjadi sebenarnya, kakak kelasnya yang garang itu, tidak akan pernah percaya. Tetap saja ia akan berada di posisi yang salah, san menjadi sasaran kemarahannya. Menjengkelkan.

Lorong antara kelas 1.7 dan 1.8 terasa terlalu sempit bagi Lina, ketika lima orang teman Inez datang menghampiri. Mereka tampak angkuh memandanginya dengan sorot mata yang geram sambil berpangku tangan. Masih terbayang rok mereka yang ketat dan berada sejengkal di atas lutut. Baju yang tampak kekecilan, kaus kaki selutut yang trendi pada zamannya.

Mereka berenam mengelilingi Lina membentuk lingkaran. Satu persatu menginterogasi. Lina bagaikan terdakwa atas kesalahan yang terlalu besar. Ya, Lina sudah menjadi pencuri. Pencuri hati Gilang, bintang sekolah saat itu.

Gilang memang tidak pernah tahu apa yang sering dialami oleh peremuan-perempuan yang disukai dan didekatinya. Memiliki wajah yang ‘terpilih’ oleh Gilang adalah kerugian terbesar. Karena pasti menjadi sasaran kemarahan Geng Manis.

Geng Manis adalah sebuah grup band yang beranggotakan enam orang, mereka selalu tampak merasa paling bintang di sekolah. Seolah semua laki-laki harus suka kepada mereka. Jika ada lelaki kecengan yang lebih tertarik kepada orang lain, maka orang lain yang salah. Jika adik kelas yang menjadi gebetan sang lelaki idola, maka mereka tidak segan-segan beraksi untuk membuat perempuan itu menjauh dari laki-laki incaran mereka.

Gilang memang menyebalkan. Menyatakan cinta secara terang-terangan. Di Jalan Gunung Galuh depan rumah Nomor 55, Ia mengatakan cinta di depan teman-teman Lina. Sayangnya, kebahagiaan tidak selalu mulus. Selalu saja ada cicak jahat yang menyampaikan kabar tersebut kepada geng Manis.

Lina memang senang, ketika tiap malam menerima telepon dari Gilang lewat telepon kabel. Atau sms-an semalam suntuk di malam Minggu. Namun ia pun memiliki beban tersendiri ketika berangkat sekolah, jam istirahat, dan pulang sekolah. Bahkan ketika sakadar ingin jalan-jalan di akhir pekan pun, masih harus merasakan teror yang luar biasa.

“Jauhi Gilang! Kalau enggak, kami akan membuat hidupmu jauh lebih gak tenang!” ancam salah satu anggota geng Manis kepadanya.

“Apa hak kakak-kakak menghalangi apa yang menjadi kesukaan saya?” Lina tidak tahan dengan perlakuan mereka. Kalimat yang sudah lama ditahannya dalam mulut akhirnya keluar juga. 

“Oh… sudah mulai bisa melawan ya nih anak?!” Ines ketua geng menyengol lengan Lina dengan sikutnya. Lina mengeluh. Dua orang lainnya menarik kerudung hingga jarum pentulnya terlepas.

Rambutnya yang panjang, terurai bebas. Dilemparnya kerudung itu. Bagaikan main bola basket, mereka asyik saling mengoper bola di hadapan lawan. Lina berusaha meraih jilbabnya. Namun keenam kakak kelasnya semakin asyik mempermainkan.

Lorong itu lorong sepi. Jarang orang yang lewat ke sana kecuali guru yang menempuh jalan tercepat untuk masuk ke kelas 1.3. Dua dinding saling membelakangi, menjadikan tempat itu aman dari pengawasan. Tidak ada celah, tidak juga jendela. Hanya tembok tinggi yang angkuh. Gelap.

Lina kesal. Pertahanannya rapuh. Ia berlutut. Menyerah. Kedua telapak tangannya menutupi muka, tangisnya menjadi-jadi, bahunya berguncang. Andini anggota geng paling tinggi mendorong Lina hingga kepalanya terbentur ke tembok, menimbulkan luka di kening. Berdarah. Kelimanya mentertawakan puas.

Pelajaran di jam kelima dan keenam semua kelas terisi dengan guru. Tak ada siswa yang berlalu lalang. Ingin rasanya Lina berteriak minta tolong, namun hal itu hanya akan membuatnya tambah sakit. Kakak kelasnya akan semakin tertarik untuk menyakiti.

Bel bernada lagu nasional berbunyi, sebagai tanda istirahat kedua. Ada sedikit perasaan lega di hati Lina. Sebentar lagi ia akan bebas dari kejahatan geng Manis. Namun dugaan Lina salah, sebelum semua siswa berhambur keluar dari kelas masing-masing, keenam perempuan itu mengambil kesempatan emasnya. Mendorong Lina sampai terjatuh. Rok dan bajunya basah dan kotor.

Dua tahun menjadi siswa SMA terfavorit di kota kelahirannya adalah perjuangan yang sangat melelahkan. Jangankan prestasi, untuk datang ke sekolah saja ia harus berjuang keras. Menjadi perempuan yang disukai lelaki tampan kecengan geng Manis adalah sebuah musibah. 

Dua tahun berlalu, Geng Manis pun lulus sekolah. Bagai ikan yang kembali mendapatkan air, Lina bernafas lega. Menjalani kehidupan sekolah yang normal dan menjadi siswa yang bisa berkonsentrasi belajar setiap hari. Semangat pergi ke sekolah dan memiliki nilai yang cukup memuaskan.

Gilang pun sudah kuliah. Namun, mereka tetap berhubungan secara intens. Tidak ada lagi geng Manis yang mengganggu mereka. Walau hanya menjalani hubungan jarak jauh, Lina sudah cukup bahagia. Baginya, Gilang adalah salah satu motivasi terbesar dalam keseharian dan belajar di SMA.

Akan tetapi, kebahagiaan itu hanya berlangsung selama satu tahun. Tepat di hari perpisahan, Geng Manis kembali beraksi. Baju kebaya yang disewa Lina, harus basah kuyup oleh dua botol minuman yang disiramkan oleh gadis-gadis yang menjelma jadi nenek sihir yang jahat. Mereka datang dengan alasan ingin mengucapkan selamat atas kelulusan, dengan memberikan selebrasi berbalut dendam.

Kebahagiaan terpancar di wajah-wajah teman seangkatan Lina. Telah lulus dari SMA. Namun tidak begitu dengannya. Ia tidak jadi berangkat ke acara perpisahan karena kebayanya basah. Gilang yang menunggu di pintu aula dengan segenggam bouquet bunga yang cantik, merasa kecewa tidak menemukan gadis yang dirindukannya. Lina pun mendapat ancaman untuk sama sekali tidak menghubungi Gilang.

Sejak saat itu, hubungan Gilang dan Lina tidak jelas kelanjutannya. Ia merasa selalu diawasi. Perempuan-perempuan jahat itu selalu membuntuti.

Dua tahun setelah itu, kesalahpahaman pun berhasil diluruskan. Menjelaskan sepenuhnya kepada Gilang apa yang sebenarnya terjadi di acara pepisahan lalu. Beruntung, Gilang bisa menerima penjelasannya dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi.

Dua hari yang lalu, ketika mereka asyik makan bakso di Simanalagi. Sekadar memungut kenangan indah masa SMA, dua orang anggota geng Manis menghampiri. Salah satunya memeluk Gilang di hadapannya.

“Hai sayang, sedang apa kamu di sini?” Wajah Gilang memerah, sama sekali tidak menyangka Ines akan datang menghampiri mereka.

“Dasar, tidak kapok ya kamu mendekati calon suami saya!” Ujar Ines. Matanya memicing. Wajahnya yang judes masih melekat sejak dulu. Lina pergi meninggalkan mereka tanpa pamit.

Meningalkan Gilang yang berteriak memanggil dan mengejar Lina. Air mata Lina bercucuran,  tidak sanggup menerima kenyataan. Mengapa dia selalu ada. Ines, perempuan paling kejam di sekolah. Ia tidak habis pikir, Gilang bisa memilih perempuan jahat itu sebagai kekasihnya.

Katakan padaku bahwa kamu tidak benar-benar mencintainya, Gilang! Sambil memegangi ponsel, Lina berharap Gilang segera menghubunginya dan mengatakan bahwa cintanya tidak pernah berubah sejak SMA. Namun sampai larut malam, tak ada satupun pesan masuk dari Gilang. Mungkin malam itu Gilang telah hilang, dimakan nenek sihir bernama Ines.  

Bandung, 13 April 2019

Cerita ini terinspirasi dari Kasus Audrey di Pontianak yang menjadi korban bullying.

loading...
 
 

TINGGALKAN KOMENTAR

Mohon masukan komentar anda!
Masukan nama anda disini