Minggu, 19 September 2021
Minggu, 19 September 2021
spot_img

Mawas Diri Terhadap Alam

Bulan Juni, dapat dikatakan sebagai bulan untuk kita bermawas diri terhadap alam. Setidakna ada dua tanggal di bulan Juni, yakni 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan 8 Juni merupakan Hari Laut Sedunia yang bisa memantik kesadaran.

Betapa pentingnya alam alam bagi kehidupan manusia. Karena sebagaimana diketahui, alam tak pernah kompromi terhadap manusia dan selalu memberikan manfaatnya secara cuma-cuma. Namun, kerap kali alam terabaikan dan dirusak kelestariannya, akibat perilaku kita, yang secara sengaja maupun tak sengaja ternyata telah merusaknya.

Alam mungkin tidak dapat marah dengan rangkaian kata-kata, apabila kita tak sengaja telah merusaknya. Namun, alam juga memiliki caranya tersendiri dalam meluapkan amarahnya.

Berbagai Bencana Alam Disajikan

Berbagai bencana alam pun disajikan kepada kita, yang membuat kita terkadang kesulitan dalam menghadapinya. Padahal, hal tersebut bukan semata-mata alam marah kepada kita. Namun, tepatnya sebagai sayangnya alam kepada diri kita, agar kita dapat terus melangsungkan kehidupan selama di dunia.

Pada awal tahun 2020 ini saja, berbagai bencana alam telah disajikan kepada kita. Dari mulai banjir yang menggenang di berbagai daerah di Indonesia, hingga datangnya wabah pandemi Virus Korona (Covid-19).

Pandemi Covid-19 ini, memiliki penyebaran yang sangat meluas ke berbagai negara. Serta menyebabkan seluruh penduduk dunia kocar-kacir dibuatnya, tak terkecuali Indonesia.

Langkah demi langkah telah dilakukan, sebagai upaya untuk menghentikan penyebarannya yang sangat masif. Salah satunya, dengan memberikan imbauan kepada masyarakat, agar melakukan pembatasan kunjungan ke tempat yang ramai.

Saat Pandemi Covid-19 Harus Membatasi Kontak Secara Langsung

Selain itu juga dengan membatasi kontak secara langsung dengan orang lain, atau biasanya disebut dengan social distancing. Social distancing dapat dilakukan dengan memperbanyak aktivitas di rumah dan tidak keluar rumah jika dirasa tak perlu.

Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat, untuk dapat saling mengingatkan dalam melakukan social distancing. Seperti, menerapkan kebijakan pembatasan sosial, menggaungkan #dirumahaja oleh para warganet di jejaring sosial media, sampai adanya inisiatif penutupan beberapa kampung oleh warganya.

Tak dapat dipungkiri, dengan adanya kegiatan tersebut, secara tak langsung kita harus merelakan sebagian hak kebebasan yang kita miliki. Seperti, hak untuk bergerak maupun berkumpul agar dapat terhindar dari serangan pandemi yang mengancam.

Alam Terlihat Jelas

Namun di sisi lain, dengan adanya pandemi ini. Setidaknya alam dapat beristirahat sejenak, dari kesibukan kita yang tiada henti dan terkadang secara tidak sengaja malah berakhir merusaknya.

Istirahatnya alam tersebut, dapat terlihat sangat jelas dari mulai terjadinya pengurangan sampah diberbagai tempat, sampai berkurangnya emisi karbon dioksida (CO2) yang menjadikan kualitas udara mulai membaik.

Akan tetapi setelah pandemi ini selesai, mungkin alam akan kembali khawatir dengan kita. Terkadang kita tak lantas sadar, akan peringatan kasih sayang alam terhadap kita. Karena bisa saja setelah pandemi ini berakhir, kita justru malah semakin masif merusak alam, karena kebutuhan ekonomi yang sempat tersendat oleh pandemi.      

Sehingga, sudah sepatutnya bencana alam yang kerap muncul dan datangnya selalu dengan cara tak terduga tersebut, menjadikan kita ber-mawas diri terhadap lingkungan.

Apakah kita benar-benar telah menjaga dan menyayangi alam, seperti alam menyayangi kita dengan selalu memberikan manfaat-manfaatnya secara gratis atau justru kita hanya memanfaatkannya saja tanpa peduli dengan alam?

Pertanyaan tersebutlah hendak kita renungkan sebagai mawas diri kita terhadap alam. Sehingga, setiap perbuatan yang telah kita lakukan tidak berakhir merugikan alam. Karena bagaimanpun, kita sangat membutuhkan alam dalam menjalani setiap kehidupan. Begitupun sebaliknya, alam juga membutuhkan kita, agar kelestariannya dapat terus terjaga.

Penulis:

Anwar Maulana Sidik, mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) jurusan Hubungan Internasional.  Tinggal di Dusun Baketrak, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. FB: Anwar Maulana Sidik, Instagram: anwarms02. (GaluhID)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Temukan Kami

47,551FansSuka
274PengikutMengikuti
2,760PelangganBerlangganan